Doom: The Dark Ages, judul terbaru dari waralaba legendaris besutan id Software, resmi dirilis pada 15 Mei 2025 untuk PlayStation 5, Xbox Series X/S, dan PC. Gim ini langsung disambut hangat oleh kritikus, menandai babak baru dari perjalanan sang Doom Slayer, kali ini bukan sebagai pelari cepat yang haus darah, melainkan sebagai ksatria baja yang menghantam musuh satu per satu.
Dengan skor rata-rata 86 persen di OpenCritic (berdasar 85 ulasan), serta nilai Metacritic 86 untuk PC, 84 untuk PS5, dan 87 untuk Xbox Series X, The Dark Ages dinilai sukses menawarkan sesuatu yang berbeda, tanpa kehilangan identitas dasarnya.
Berat, Brutal, dan Berani Berubah
Sebagai prekuel dari Doom (2016) dan Doom Eternal (2020), The Dark Ages melakukan pergeseran besar. Jika dua gim sebelumnya menekankan kelincahan dan multitasking senjata, maka edisi ini memaksa pemain berdiri kokoh dan menghajar musuh dengan kekuatan penuh. Doom Slayer kini terasa seperti palu godam berjalan, mendarat dari ketinggian saja bisa memicu suara gelegar.
Senjata-senjata barunya, dari pelontar paku hingga senapan penghancur tengkorak, tidak hanya terdengar sadis, tapi juga dirancang untuk membabat musuh dalam jumlah besar sekaligus. Kombinasi aksi lambat, medan tempur luas, dan sistem blokir proyektil lewat tameng menjadikan pertempuran lebih taktis dan teatrikal.
Namun di balik semua itu, Doom: The Dark Ages juga tidak takut bereksperimen. Beberapa level menampilkan Doom Slayer mengendalikan mecha (robot) raksasa atau menunggang naga dalam misi skala besar. Sayangnya, bagian-bagian ini justru menjadi titik lemah: terasa repetitif dan tidak selalu fungsional dalam desain permainan.
Kritik dan Pujian: tetapi tidak tanpa cela
Secara umum, The Dark Ages dipuji karena aksi yang solid, arahan seni yang konsisten, serta musik latar yang kembali menghentak khas Mick Gordon. Narasi dan struktur campaign juga dianggap lebih ramah untuk pemain baru, tanpa mengorbankan kedalaman.
Namun, kritik pun bermunculan. Beberapa pengulas menganggap visualnya kurang tajam, ada bug minor, dan skill tree system-nya terasa terlalu sederhana. Elemen mecha dan naga, yang semula diharapkan menjadi klimaks naratif, malah disebut “sekadar gimmick” oleh sebagian media.
Meski begitu, daftar skor tinggi tetap mengesankan:
GamesRadar+: 3,5/5
Hardcore Gamer: 5/5
IGN: 9/10
PlayStation Universe: 9,5/10
GameSpot: 8/10
Eurogamer: 4/5
Lebih Dekat ke Eksperimen daripada Evolusi
Dengan total 22 level yang luas dan terbuka, The Dark Ages menawarkan banyak ruang untuk eksplorasi. Tetapi justru di sinilah letak dilema. Skala besar tak selalu berbanding lurus dengan intensitas. Beberapa level dinilai terlalu panjang dan melelahkan, membuat ritme permainan kadang tersendat.
Meski demikian, keberanian id Software untuk tidak sekadar mengulang formula lama layak diapresiasi. The Dark Ages mungkin bukan puncak adrenalin seperti Doom Eternal, namun ia hadir sebagai medieval detour yang brutal, taktis, dan cukup memikat untuk membuka cakrawala baru dalam genre shooter.
Doom: The Dark Ages dipasarkan dengan harga rilis: Rp1.050.000 (edisi standar), Rp1.450.000 (Premium Edition), dan tersedia juga di katalog Day One Release Game Pass Ultimate
Sumber berita: Instant Gaming News, The Guardian




Leave a comment