Setiap kali ada diskusi panjang soal grafis dalam video game, selalu muncul argumen klise: “Grafis bukan segalanya.” Benar. Tapi juga tidak sepenuhnya jujur.

Para komentator Reddit, fanpage Facebook, sampai YouTube reaction channel beramai-ramai memuja kesederhanaan. “Yang penting gameplay-nya seru, bro.” Tapi saat trailer GTA VI meluncur, dengan tampilan visual bak film Scorsese disuntik DNA Miami Vice, mereka adalah orang yang sama yang mengulang video itu 10 kali, membedah tiap bingkai, dan menangis karena bayangan mobilnya realistis.

Mari akui satu hal sederhana: kita peduli pada keindahan, titik.


Analogi Ferrari

Kita tahu, tidak semua orang tumbuh bersama game AAA. Ada generasi yang terikat emosional pada visual 8-bit atau 16-bit. Dan itu valid. Mereka menyukai game karena ide, mekanik, dan cerita, bukan lapisan efek volumetrik.

Tapi keterbatasan bisa membentuk selera, dan selera bisa membentuk bias. Ketika keterbatasan hardware menjadikan kita terbiasa dengan tampilan sederhana, ada kecenderungan untuk menyindir perkembangan visual sebagai “boros” atau “dangkal”. Padahal, saat melihat trailer GTA VI, mereka tetap ikut heboh. Jadi mungkin bukan grafiknya yang mereka tolak, tapi fakta bahwa dunia mulai bergerak lebih cepat daripada alat yang mereka punya.

Fenomena ini bukan unik di dunia game. Penggemar musik lo-fi juga kerap mencibir produksi pop karena dianggap terlalu “polesan” dan “tidak jujur”. Tapi seringkali, ada nostalgia atau trauma ekonomi di balik selera yang terbentuk itu.


Estetika, Hypocrisy, David Hume & Kant

Di sinilah menariknya refleksi filosofis. (Bukan untuk flexing snobisme kutipan klasik, tapi karena ide-ide ini diam-diam membentuk selera dan percakapan kita hingga hari ini.)

David Hume, filsuf Skotlandia abad ke-18, dalam esai Of the Standard of Taste, menyebut bahwa apresiasi terhadap keindahan bisa dilatih. Ia menyusun kriteria: sensitivitas rasa, pengalaman membandingkan, kebebasan dari prasangka, dan repetisi. Hume tidak percaya bahwa semua pendapat soal estetika itu sama nilainya, bagi dia, selera bisa dibentuk dan distandardisasi lewat latihan.

Tapi justru di sini titik lemahnya. Hume melihat keindahan sebagai hasil kebiasaan yang dipertajam. Artinya, kita belajar menyukai sesuatu karena familiar dan terlatih. Masalahnya, ini bisa mengabaikan dimensi keindahan yang bersifat spontan dan langsung.

Di sinilah saya lebih berpihak pada Immanuel Kant. Dalam Critique of Judgment, Kant menyebut bahwa penilaian estetika itu bersifat tanpa konsep, bebas dari kepentingan, dan muncul dari impresi langsung. Keindahan menyergap kita sebelum kita punya alasan untuk menyukainya. Ia universal bukan karena semua orang pasti setuju, tapi karena kita merasa semua orang seharusnya bisa merasakannya juga.

Dalam konteks grafis game, ini menjelaskan kenapa trailer GTA VI menyentuh begitu banyak orang dari berbagai spektrum. Karena visual itu menyergap. Ia bukan soal latihan, tapi soal daya pukau. Kita tidak butuh training untuk merasa terpana oleh pantulan cahaya senja di kap mobil, atau saturasi warna kota yang panas dan berdebu. Itu bukan Hume, itu Kant.


Visual dan Otak: Argumen dari Neurosains

Kita sering lupa bahwa otak manusia tidak netral terhadap rangsangan visual. Lebih dari 50% dari korteks serebral kita, wilayah otak yang mengatur kesadaran dan penalaran tingkat tinggi, tersibukkan oleh pemrosesan visual. Artinya, melihat bukan hanya tindakan pasif, tapi proses kognitif utama yang membentuk persepsi, emosi, bahkan memori.

Penelitian juga menunjukkan bahwa gambar dan warna dapat memicu respon emosional dalam waktu milidetik. Kita secara naluriah tertarik pada kontras, gerakan, dan komposisi yang harmonis. Inilah sebabnya mengapa cutscene atau trailer dengan pencahayaan sempurna bisa membuat kita merinding, bahkan tanpa konteks cerita. Grafis bekerja pada level bawah sadar. Ia bukan hanya estetika, tapi biologi.


Dari X ke IG Reels: Siapa Bilang Tak Peduli?

Kalau kamu masih bilang “nobody cares about graphics,” coba lihat siapa saja yang mem-posting ulang trailer GTA VI di Instagram, TikTok, atau Youtube Shorts. Creator dari berbagai spektrum, dari tech reviewer sampai akun meme, berlomba membicarakan detail kecil.  Saat mereka bikin video analisis satu menit tentang animasi di GTA VI, mereka sedang memperlakukan visual game sebagai bagian dari budaya.  Jadi kenapa pura-pura tidak peduli?


Verdict

Jadi, apakah grafis penting? Jawaban singkatnya: iya. Tapi bukan sebagai segalanya.

Penting karena kita adalah makhluk visual, yang sejak bayi sudah merespons warna, pola, dan gerak.

Karena kita manusia yang mudah terpikat pada yang indah.

Karena kita semua, entah mau mengaku atau tidak, pernah jatuh cinta pada sebuah game lewat mata, sebelum otak dan hati menyusul.

Dan kalau kita bisa lebih jujur pada diri sendiri soal ini, mungkin kita akan berhenti membuat dikotomi bodoh antara “graphics vs gameplay” dan mulai bicara tentang bagaimana keduanya bisa saling mengangkat. Karena pada akhirnya, pengalaman bermain adalah soal keterhubungan total: antara mata, tangan, pikiran, dan emosi.


Tentang Penulis: Sesekali bermain synthesizer, pengamat sosial musiman. Dibesarkan oleh MTV, dibentuk oleh Tony Scott, tersesat di era Cyberpunk 2077 & Frame Generation. Kini ia bekerja purnawaktu di Okemudin Gaming sebagai tukang tulis.

Leave a comment

Trending