Perusahaan media digital Ziff Davis, yang menaungi puluhan brand teknologi dan gaya hidup seperti IGN, CNET, dan PCMag, resmi menggugat OpenAI atas tuduhan pelanggaran hak cipta. Gugatan ini diajukan di pengadilan federal Delaware pada Kamis (24/4), dan menuduh perusahaan kecerdasan buatan yang didukung Microsoft itu telah “secara sengaja dan terus-menerus” memanfaatkan karya jurnalistik mereka untuk melatih model kecerdasan buatan tanpa izin.

Dalam salinan gugatan yang dirilis ke publik, Ziff Davis menyatakan bahwa OpenAI telah menyalin, mereproduksi, dan menyimpan ribuan karya dari berbagai media yang mereka miliki. Perusahaan tersebut menyebut telah mengidentifikasi “ratusan salinan penuh dari teks artikel” dalam sampel dataset WebText yang sempat dipublikasikan OpenAI—mengindikasikan bahwa skala pelanggaran bisa jauh lebih luas dari yang diketahui saat ini.

“Kami telah mengambil langkah teknis dengan memblokir web crawler melalui robots.txt, namun OpenAI tetap mengambil konten kami, bahkan menghapus informasi hak cipta yang melekat,” tulis Ziff Davis dalam dokumen gugatan.

Ziff Davis, yang saat ini mempekerjakan lebih dari 3.800 orang dan menerbitkan hampir dua juta artikel setiap tahun, menjadi salah satu penerbit terbesar yang menggugat OpenAI sejauh ini. Sebelumnya, beberapa perusahaan media besar lain seperti The New York Times, The Intercept, dan Dow Jones telah lebih dulu mengambil jalur hukum serupa.

Gugatan ini memperpanjang deretan tuntutan hukum terhadap perusahaan teknologi besar yang dituduh menyalahgunakan karya berhak cipta—dari penulis dan seniman visual hingga jurnalis. Dalam beberapa bulan terakhir, industri media semakin gelisah dengan model AI generatif seperti ChatGPT yang dinilai dapat mengancam eksistensi kerja jurnalistik dan struktur ekonomi media tradisional.

Berbeda dari beberapa media seperti The Washington Post, The Atlantic, dan Financial Times yang telah menandatangani kesepakatan lisensi konten dengan OpenAI, Ziff Davis menolak pendekatan tersebut. Mereka justru menuntut penghentian eksploitasi konten mereka, serta meminta penghancuran dataset dan model yang telah terkontaminasi oleh materi hak cipta mereka.

Juru bicara OpenAI, Jason Deutrom, merespons dengan mengatakan bahwa model mereka “mendorong inovasi” dan “dilatih dari data yang tersedia untuk umum serta berpijak pada prinsip penggunaan wajar (fair use).” Namun, pernyataan tersebut belum meredakan kekhawatiran dari pihak media yang merasa konten mereka dijadikan bahan mentah tanpa kompensasi atau transparansi.

Ziff Davis menolak memberikan komentar lebih lanjut kepada media.

Gugatan ini memperjelas medan tarik-ulur antara kemajuan teknologi dan perlindungan hak kekayaan intelektual, dengan hasil akhir yang kemungkinan akan berdampak luas terhadap masa depan media, AI, dan hukum hak cipta itu sendiri.

Sumber berita: Reuters, The Verge

Leave a comment

Trending