Restrukturisasi terbesar dalam sejarah perusahaan akan berdampak pada lebih dari 20% tenaga kerja global.

Intel Corp. akan memangkas lebih dari 20 persen tenaga kerjanya secara global dalam beberapa bulan mendatang, sebagai bagian dari rencana restrukturisasi besar-besaran. Kebijakan ini diumumkan sehari setelah laporan Bloomberg menyebut bahwa perusahaan teknologi raksasa asal Bay Area itu sedang mempersiapkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terbesar dalam sejarahnya.

Dalam pernyataan resmi yang dikonfirmasi pada Kamis (24/4), Intel menyatakan akan melakukan pengurangan tenaga kerja secara signifikan serta menerapkan kebijakan kerja kantor yang lebih ketat mulai September mendatang.

Langkah ini dilakukan di bawah kepemimpinan CEO baru, Lip-Bu Tan, yang resmi menjabat bulan lalu. Tan menggantikan Pat Gelsinger, yang mengundurkan diri pada Desember lalu setelah masa jabatan yang diwarnai gejolak—termasuk kerugian finansial, perubahan kepemimpinan, dan ketertinggalan dalam persaingan chip kecerdasan buatan (AI) melawan pesaing seperti Nvidia.

Dalam memo internal yang dibagikan kepada karyawan pada hari Kamis, Tan menyoroti budaya manajerial Intel yang dinilainya kurang efisien. “Saya cukup terkejut mengetahui bahwa indikator kinerja utama (KPI) bagi banyak manajer Intel selama beberapa tahun terakhir justru adalah besar kecilnya tim yang mereka pimpin,” tulisnya. “Ke depan, hal ini tidak akan lagi menjadi tolok ukur. Saya percaya bahwa pemimpin terbaik adalah mereka yang mampu menghasilkan dampak maksimal dengan tim yang ramping.”

Tan menegaskan bahwa pengurangan tenaga kerja akan dimulai pada kuartal kedua dan akan dipercepat dalam beberapa bulan mendatang. Meski tidak disebutkan secara spesifik jumlah karyawan yang terdampak, angka tersebut diperkirakan signifikan mengingat Intel saat ini memiliki sekitar 108.900 karyawan, turun dari 124.800 pada tahun sebelumnya, menyusul gelombang PHK sebesar 15.000 posisi yang diumumkan pada Agustus lalu.

Sebagai bagian dari upaya rasionalisasi bisnis, Tan juga mengisyaratkan penjualan unit-unit non-inti serta fokus investasi pada produk-produk yang lebih kompetitif. Pekan lalu, Intel melepas 51% saham divisi chip programmable Altera kepada Silver Lake Management.

Intel mencatat kerugian bersih sebesar USD 821 juta pada kuartal yang berakhir 31 Maret, meski menghasilkan pendapatan sebesar USD 12,7 miliar. Angka ini jauh lebih dalam dibanding kerugian USD 437 juta pada periode yang sama tahun lalu, dengan pendapatan yang identik.

“Kita kini dipersepsikan sebagai lambat, terlalu birokratis, dan kaku—dan itu harus kita ubah,” tegas Tan dalam memonya. “Para pesaing kita ramping, cepat, dan gesit—dan kita harus menjadi seperti itu agar bisa mengeksekusi strategi dengan lebih baik.”

Selain pengumuman PHK, Tan juga menyampaikan kebijakan baru yang mengatur kehadiran fisik di kantor. Mulai 1 September, sebagian karyawan yang selama ini bekerja di kantor selama tiga hari dalam seminggu akan diminta untuk hadir empat hari per minggu. Kebijakan ini, menurut Tan, diperlukan untuk menyederhanakan sistem kerja internal yang dinilainya terlalu banyak menyita waktu dan tidak berdampak langsung pada kemajuan bisnis.

“Saya mendapati begitu banyak waktu dan energi yang dihabiskan untuk rapat internal dan pekerjaan administratif yang tidak relevan,” ujarnya. “Saya telah menginstruksikan seluruh pimpinan untuk memangkas rapat yang tidak perlu dan membatasi jumlah peserta rapat secara signifikan. Terlalu banyak waktu berharga yang terbuang sia-sia.”

Langkah-langkah ini menandai babak baru bagi Intel di bawah kepemimpinan Tan, sekaligus mengirimkan sinyal bahwa perusahaan akan mengadopsi pendekatan yang lebih agresif dan efisien dalam menghadapi tekanan industri teknologi yang semakin kompetitif.

Sumber berita: Bloomberg, San Francisco Chronicles

Leave a comment

Trending