Di tengah pusaran perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, pemerintahan Presiden Donald Trump mengejutkan pasar dengan membebaskan smartphone, komputer, dan komponen elektronik tertentu dari tarif impor tinggi, termasuk bea masuk sebesar 125% terhadap barang-barang asal Tiongkok. Meski awalnya dirancang sebagai bagian dari strategi “America First”, kebijakan ini justru menjadi angin segar—terutama bagi industri teknologi, termasuk sektor game yang sangat bergantung pada perangkat keras buatan Tiongkok.
Tarif yang Hampir Meroketkan Harga Konsol dan Game
Sebelum keputusan ini, bayang-bayang krisis sudah terasa di antara para pengembang dan penerbit game. Sebagian besar konsol seperti PlayStation dan Xbox dirakit di Tiongkok. Beberapa analis bahkan memperkirakan harga konsol bisa melonjak hingga 25–35% jika tarif diterapkan penuh dan biaya produksi dialihkan ke negara lain.
Kekhawatiran juga menyasar ke sektor PC gaming: kartu grafis, memori, dan motherboard—semuanya nyaris mustahil diproduksi di luar Asia dalam jangka pendek. Penerapan tarif tinggi terhadap komponen seperti chip, semikonduktor, dan memori bisa saja menyebabkan krisis pasokan dan kelangkaan barang di pasar retail AS. Dalam situasi seperti ini, harga game pun bisa ikut terdorong naik, seiring biaya distribusi dan produksi perangkat keras yang membengkak.
Namun dengan pengecualian tarif ini, keruntuhan harga yang dikhawatirkan berhasil dihindari. Ini ibarat “checkpoint” yang menyelamatkan industri game dari kerusakan ekonomi yang luas.
Apple, Nvidia, dan Dunia Game Menarik Napas
Tak hanya Apple dan Microsoft—yang memiliki keterkaitan langsung dengan produksi hardware—tetapi juga Nvidia, AMD, dan bahkan perusahaan seperti Valve yang mengandalkan distribusi digital melalui perangkat gaming kelas atas, menyambut langkah ini dengan kelegaan.
“Ini skenario impian untuk para investor teknologi,” kata Dan Ives dari Wedbush Securities. “Smartphone dan chip dikecualikan—itu artinya konsol dan PC gaming selamat untuk saat ini.”
Langkah ini juga memberikan waktu tambahan bagi perusahaan-perusahaan besar untuk memindahkan produksi dari Tiongkok ke India, Vietnam, atau bahkan kembali ke AS, seperti yang didorong Gedung Putih. Namun kenyataannya, untuk industri game, proses “reshoring” ini tidak semudah membalik telapak tangan.
Realitas Produksi: Rantai Pasokan Game Masih China-Centric
Meskipun Trump bersikeras bahwa “Amerika tidak boleh bergantung pada Tiongkok” untuk teknologi kritis, kenyataan di lapangan sangat berbeda. Menurut laporan dari Counterpoint Research, lebih dari 80% iPhone yang dijual di AS dibuat di Tiongkok—dan pola ini juga berlaku untuk berbagai komponen hardware gaming.
Lebih penting lagi, industri game bukan hanya tentang hardware. Banyak aksesori seperti controller, VR headset, dan peripheral lainnya juga berasal dari pabrik di Asia Timur. Jika tarif semikonduktor dan sensor tetap diberlakukan, maka ekosistem gaming berisiko terkena efek domino: dari kelangkaan komponen, tertundanya produksi, hingga naiknya harga retail.
Untuk sementara, langkah mundur Trump dari kebijakan tarif global ini dianggap sebagai bentuk negosiasi ulang dalam menghadapi negara-negara lain. Hanya Tiongkok yang tetap dikenakan tarif 145%, sebagai balasan atas bea 84% mereka terhadap produk AS.
Namun sektor video game, yang nilainya kini lebih besar dari gabungan industri film dan musik, bisa menjadi collateral damage jika tensi ini terus meningkat. Pasar game bergantung pada stabilitas harga dan pasokan barang. Tanpa itu, baik pengembang indie maupun publisher besar seperti Sony dan Microsoft akan kesulitan menyusun roadmap jangka panjang.
Industri Game dalam Mode Bertahan
Meski lolos dari “peluru” tarif untuk saat ini, industri game global kini menyadari betapa rapuhnya ketergantungan mereka pada struktur produksi saat ini. Dalam jangka panjang, tekanan dari kebijakan proteksionis akan mendorong para pemain besar untuk mencari alternatif: mendekatkan produksi ke pasar konsumen, membangun supply chain baru di Asia Selatan, atau bahkan mengembangkan teknologi lokal secara lebih mandiri.
Tetapi itu semua membutuhkan waktu—dan biaya besar. Dan selama ketidakpastian masih jadi bagian dari lanskap ekonomi global, industri game harus terus berada dalam mode bertahan: menghemat, menyesuaikan, dan berharap bahwa “checkpoint” ini bukan sekadar jeda singkat sebelum boss fight berikutnya.
Sumber Berita: Game Rant, BBC.





Leave a comment