Sejak pertama kali diumumkan, interpretasi Assassin's Creed Shadows tentang Jepang feodal langsung mendapat reaksi keras—terutama dari Barat.
Beberapa pihak mempersoalkan identitas protagonis, sementara yang lain mempertanyakan akurasi sejarah dari keberadaan Yasuke, seorang samurai Afrika, atau sekadar ide menghadirkan protagonis non-Jepang ketika sudah ada Naoe, seorang wanita Jepang, sebagai salah satu karakter utama. Meskipun franchise ini bercerita tentang teori konspirasi dan peninggalan alien kuno, banyak yang bersikeras bahwa Jepang akan membenci game ini karena ketidakakuratan sejarahnya.
Namun, ulasan terbaru menunjukkan bahwa pemain di Jepang justru puas dengan apa yang dihadirkan Ubisoft Quebec, terutama setelah melihat jumlah pre-order yang tinggi. Walaupun ada kritik dari audiens Jepang sebelum perilisan, sebagian besar bukan tentang Yasuke atau Naoe. Kontroversi utama berpusat pada penggunaan bendera Sekigahara Teppo-tai di materi promosi Assassin's Creed Shadows, yang kemudian telah diklarifikasi dan disertai permintaan maaf dari pengembang.
Reaksi terhadap Assassin's Creed Shadows di Jepang mirip dengan game fiksi sejarah lainnya, seperti Ghost of Tsushima (2020), yang mendapat pujian luas. Meski tidak sepositif itu, berbagai outlet besar Jepang seperti Dengeki, Game Watch, Gamer, dan 4Gamer menikmati pengalaman menjelajahi era Sengoku dalam game ini.
Bagi para kritikus Jepang, lanskap indah di Shadows membangkitkan rasa familiar, baik dari pengalaman langsung maupun kenangan masa lalu. 4Gamer memuji cara Ubisoft merender ladang dan pegunungan sebagai sesuatu yang "mengagumkan." Mereka bahkan mengatakan bahwa pergantian musim dalam game terasa "nostalgic," mengingatkan mereka pada masa kecil di pedesaan bersama kakek mereka. Game Watch juga memuji efek cuaca dan imersi yang dihadirkan game ini.
Di antara semua ulasan, Gamer memberikan pendapat paling positif, menyatakan bahwa "kota-kota terasa hidup, dengan pemandangan pegunungan yang begitu subur sehingga terasa seolah-olah Anda benar-benar sedang menjelajahi Jepang di masa Sengoku." Namun, Dengeki mencatat bahwa penggemar sejarah mungkin akan menemukan beberapa ketidakakuratan yang mengganggu, seperti kemunculan Ukita Naoie yang seharusnya sudah meninggal pada waktu peristiwa dalam game berlangsung, serta ketidakakuratan dalam penggambaran Kastil Osaka.
Salah satu aspek yang paling mendapat pujian adalah karakter Naoe, seorang wanita muda dari klan Iga. Game Watch menyatakan bahwa "Naoe mewujudkan semangat protagonis Assassin's Creed" karena sisi emosionalnya yang "belum matang" membuatnya terasa manusiawi. Dengeki juga menyebutkan bahwa koneksi Naoe yang kuat dengan cerita membuatnya terasa seperti protagonis utama. Selain itu, hubungan Naoe sebagai putri Fujibayashi Nagatomori memberikan ruang bagi Ubisoft untuk menciptakan karakter yang terhubung erat dengan peristiwa di era Sengoku.
Namun, karakter Yasuke mendapat kritik lebih banyak. 4Gamer menyebutnya sebagai "samurai sempurna" yang terasa terlalu ideal. Meskipun begitu, semua outlet mengakui bahwa Yasuke adalah tokoh nyata dalam sejarah Jepang. Ini bukan kali pertama Yasuke muncul dalam fiksi sejarah, karena ia juga diadaptasi dalam seri Nioh dan Samurai Warriors dari Koei Tecmo.
Game Watch menambahkan bahwa beberapa bagian dari kisah asal-usul Yasuke di Jepang terasa terlalu "kebetulan," tetapi interaksinya dengan tokoh sejarah seperti daimyo Nobunaga Oda mendapat pujian hampir di semua ulasan. Penampilan Hiroshi Tamaki sebagai Nobunaga dianggap berhasil memberikan kesan pemimpin yang "bijaksana tetapi keras." Yasuke juga dinilai sebagai pendamping yang baik bagi Naoe karena sifatnya yang lebih rasional.
Sistem leveling dalam game juga menjadi perhatian kritikus. Game Watch menunjukkan bahwa menghadapi musuh yang hanya dua atau tiga level lebih tinggi dari Naoe atau Yasuke dapat menyebabkan kematian instan. 4Gamer mengkritik minimnya experience point yang diperoleh di luar misi. Yasuke juga dianggap lebih sulit dimainkan karena tidak memiliki kemampuan stealth, meskipun Gamer menganggap perbedaan gaya bermain antara Naoe dan Yasuke sebagai fitur yang memperkaya pengalaman.
Naoe digambarkan sebagai "ninja stereotip" yang lincah dan mengandalkan serangan kejutan, sementara Yasuke lebih seperti pendekar kuat dengan serangan khas Iai Strike, mirip dengan yang terlihat di serial FX Shōgun atau game aksi seperti Sengoku Basara. Kedua karakter menawarkan pengalaman bermain yang kontras, mencerminkan peran mereka sebagai ninja dan samurai dalam cerita.
Secara keseluruhan, semua ulasan sepakat bahwa Assassin's Creed Shadows adalah fiksi sejarah yang tetap berakar pada elemen fiksi ilmiah khas franchise ini. Game ini mendapat pujian karena menyajikan cerita mendalam yang melibatkan tokoh-tokoh penting Jepang, penulisan karakter yang kuat, dan dunia terbuka yang memukau. Dengan lebih dari 3 juta pemain setelah perilisannya, tampaknya Assassin's Creed Shadows berhasil menarik perhatian pemain di seluruh dunia, termasuk di Jepang.
Leave a comment